15 / 10 / 2009
Perusahaan Gas Negara (PGN) menargetkan pada Oktober mendatang sudah mulai mengalirkan gas sebesar 60 mmscfd ke dua PLTGU PLN. Demikian dikatakan
-------------------------------
15 / 10 / 2009
Jakarta, (Analisa) Di tengah krisis energi saat ini, inovasi masyarakat Indonesia terus berkembang. Setelah geger ‘Blue Energy’, kini berkembang sebuah alat
-------------------------------
15 / 10 / 2009
JAKARTA - Kenaikan harga gas elpiji (LPG) 12 kilogram tinggal menghitung hari. PT Pertamina (persero) memastikan bahwa kenaikan harga LPG
-------------------------------

Halaman : 1 |

 

 

Alat Pengubah Air Jadi Gas Ditemukan di Mampang
 
Jakarta, (Analisa) Di tengah krisis energi saat ini, inovasi masyarakat Indonesia terus berkembang. Setelah geger ‘Blue Energy’, kini berkembang sebuah alat yang bisa mengubah air menjadi gas. Kemudian dari gas tersebut bisa menyalakan api. Alat ini ditemukan Eddy Suprianto (57), warga Jalan Zeni III No 5, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. “Api ini dapat digunakan untuk memasak dan mengelas,” kata Eddy kepada detikcom, Rabu (15/10). Eddy menjelaskan cara kerja alat yang berawal dari kompor ini yakni di dalam kompor itu terdapat dua tabung yang telah diisi air. Air itu sudah dicampur bahan kimia. Air tersebut kemudian dikeluarkan lewat selang dan menjadi gas. “Ujung selang diberi sumbu dari besi sehingga memancar gas dan menyalalah api,” ujarnya. Kompor buatan Eddy ini bisa membangkitkan energi listrik atau cukup dicolokkan ke saklar. Untuk satu liter air, bisa membuat api menyala selama 31 jam dengan harga Rp9.300 per liter. “Untuk kompornya masih prototipe. Karena masih prototipe habis sekitar Rp600 ribu,” katanya. Menurut Eddy, alatnya akan lebih murah apabila diproduksi massal. “Saya akan menyerahkan hasil riset ini ke pemerintah untuk membeli hak patennya,” imbuhnya. 12 Kali Gagal Di bawah naungan rindang pohon jambu di rumahnya, Eddy Suprianto (57) yang mengaku telah bisa mengubah air menjadi gas ini tidak sekali jadi bisa membuat kompor tersebut. Selama tiga tahun terakhir dia terus melakukan eksperimen dengan 12 kali kegagalan. “Sudah 12 kali kompor saya gagal. Ini yang ke-13,”ujarnya. Berbagai eksperimen dilakukan. Hanya dengan menggunakan kalkulator dan coret-coretan kertas, dia terus mencoba. Sesekali dia membaca buku-buku kimia dan elektronik untuk menunjangya. “Secara serius mencoba sejak tiga tahun terakhir. Tapi sudah tertarik sejak 1995. Cuma baru bisa serius usai pensiun,” tambah lelaki yang telah memutih semua rambutnya. Selama tiga tahun terakhir dia telah menghabiskan uang sebanyak Rp10 juta. Meski menghabiskan dana dan waktu yang tidak sedikit, hasilnya benar-benar membuat Eddy puas. “Apalagi, seandainya meledak pun, tidak sebahaya seperti gas LPG (Liquid Petroleum Gas). Karena hasil gas kompor saya, gasnya langsung merembet ke atas. Sedangkan kalau LPG mengambang di udara,” tutur ayah tiga anak ini. Kini, hasil inovasinya telah selesai sehingga bisa mengubah air menjadi gas. Meski baru prototipe, dia telah berani mempublikasikannya. Kompornya pun telah ditutup boks dari fiber ukuran 50 m kubik warna hijau. Kini tinggal finishing desain kompor dan sumbu kompor. “Saya siap mempertanggungjawabkan secara ilmiah kepada publik. Yang terpenting, air telah bisa diubah menjadi gas,”pungkas laki-laki yang putus kuliah dari jurusan arsitektur di Universitas Pancasila ini
 
Tanggal Post : 15 / 10 / 2009